Kendari – Universitas Muhammadiyah Kendari (UMKH), khususnya Program Studi Sistem Informasi, berhasil menghadirkan inovasi teknologi terdepan yang akan mengubah cara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengelola aset digital mereka. Penelitian kolaboratif antara dosen dan mahasiswa ini, yang diluncurkan secara resmi pada Rabu, 3 April 2026, menciptakan platform bernama “AssetChain” – sebuah solusi manajemen aset digital yang mengintegrasikan teknologi blockchain dengan sistem keamanan berlapis.
Penelitian ini merupakan hasil kerja keras selama 18 bulan yang melibatkan tim akademisi dan praktisi dari berbagai latar belakang. Proyek yang didukung penuh oleh Direktorat Riset, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat UMKH ini diharapkan dapat memberdayakan lebih dari 5.000 pelaku UMKM di Sulawesi Tenggara dalam mengelola inventaris dan aset berharga mereka dengan lebih efisien dan aman.
Latar Belakang dan Motivasi Penelitian
Sulawesi Tenggara, sebagai daerah yang terus berkembang secara ekonomi, memiliki potensi UMKM yang sangat besar. Namun, tantangan nyata yang dihadapi oleh mayoritas pelaku usaha lokal adalah minimnya sistem pencatatan aset yang terstruktur dan aman. Sebagian besar masih menggunakan metode manual berbasis buku catatan atau spreadsheet sederhana, yang rawan kehilangan data, manipulasi, dan kesulitan dalam verifikasi aset.
“Kami menemukan peluang besar ketika melakukan studi lapangan ke beberapa UMKM di Kendari dan sekitarnya,” ungkap Dr. Bambang Sutrisno, Ketua Program Studi Sistem Informasi UMKH, saat memberikan penjelasan di ruang Auditorium Kampus Pusat UMKH, Jalan Sultan Hasanuddin, Kendari. “Hampir 87 persen dari 200 UMKM yang kami survei mengalami kendala dalam mengorganisir aset mereka. Ini adalah celah yang harus kami isi dengan solusi teknologi yang tepat sasaran dan mudah digunakan.”
Dari temuan tersebut, tim penelitian yang dipimpin Dr. Bambang Sutrisno bersama dengan dosen-dosen senior seperti Ir. Siti Nurhaliza, M.Kom. dan Drs. Muhammad Rifki Pratama, M.T., mulai merancang konsep AssetChain. Mereka menyadari bahwa teknologi blockchain – yang telah terbukti keamanannya – adalah kunci untuk memberikan kepercayaan kepada para pelaku usaha dalam mencatat aset mereka secara transparan dan tidak dapat diubah.
Metodologi dan Pengembangan Platform
Penelitian ini melibatkan 12 mahasiswa tingkat akhir dari Program Studi Sistem Informasi UMKH, yang terbagi dalam tiga kelompok spesialisasi: pengembangan teknologi blockchain, desain antarmuka pengguna (user interface), dan pengujian keamanan sistem. Kolaborasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa ini menciptakan sinergi yang produktif, di mana teori akademik bertemu dengan praktik nyata.
“Kami menggunakan metodologi agile development untuk memastikan produk yang dihasilkan responsif terhadap kebutuhan pengguna,” jelas Ir. Siti Nurhaliza, salah satu dosen peneliti utama, dalam sesi wawancara eksklusif dengan media kampus. “Setiap dua minggu kami melakukan sprint review dengan stakeholder UMKM, sehingga feedback mereka langsung kami implementasikan ke dalam pengembangan fitur berikutnya.”
Platform AssetChain dibangun dengan arsitektur yang modular, memungkinkan UMKM untuk menyesuaikan fitur sesuai kebutuhan spesifik bisnis mereka. Fitur-fitur utama yang ditawarkan meliputi:
Pertama, pencatatan aset real-time dengan teknologi blockchain yang memastikan setiap transaksi tercatat permanen dan tidak dapat dimanipulasi. Kedua, sistem verifikasi berlapis yang menggunakan kombinasi autentikasi multi-faktor dan smart contract untuk mengesahkan setiap perubahan status aset. Ketiga, dashboard analitik yang memberikan insight mendalam tentang kondisi aset, depresiasi, dan proyeksi nilai aset di masa depan. Keempat, fitur kolaborasi tim yang memungkinkan multiple user dengan level akses berbeda untuk mengelola aset sesuai peran mereka.
Salah satu mahasiswa peneliti, Rivan Hidayat (angkatan 2022), menceritakan pengalamannya terlibat dalam proyek ini. “Awalnya saya khawatir apakah teknologi blockchain yang kompleks ini bisa kami implementasikan dengan baik. Namun, bimbingan intensif dari Ibu Siti dan tim dosen membuat saya dan teman-teman makin percaya diri. Bahkan, kami sempat menolak tiga desain awal karena hasilnya masih terlalu rumit untuk digunakan UMKM,” ujar Rivan, yang kini menjadi technical lead dalam proyek ini.
Fitur Unggulan dan Keunggulan Kompetitif
Apa yang membedakan AssetChain dari solusi serupa yang sudah ada di pasaran adalah fokusnya yang spesifik pada kebutuhan UMKM Indonesia, terutama di daerah dengan infrastruktur digital yang masih terbatas. Platform ini dirancang untuk dapat berfungsi dengan koneksi internet yang tidak stabil, tersedia dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami, dan dengan antarmuka yang intuitif sehingga tidak memerlukan pelatihan teknis yang rumit.
“Kami juga menyediakan fitur offline mode,” tambah Drs. Muhammad Rifki Pratama, yang khusus menangani aspek keamanan dan infrastruktur. “Jadi, UMKM bisa tetap mencatat aset mereka bahkan ketika koneksi internet sedang bermasalah. Data akan otomatis tersinkronisasi ketika koneksi kembali normal. Ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk konteks Indonesia, khususnya di daerah-daerah timur seperti Sulawesi Tenggara.”
Sistem keamanan yang diimplementasikan juga telah lulus audit dari lembaga sertifikasi keamanan siber internasional. Enkripsi end-to-end memastikan bahwa data aset UMKM sepenuhnya aman dari ancaman cyber, sementara backup otomatis yang tersebar di multiple server mencegah kehilangan data.
Uji Coba dan Respons Positif dari UMKM
Sebelum peluncuran resmi, tim penelitian melakukan fase beta testing selama tiga bulan dengan melibatkan 25 UMKM dari berbagai sektor – mulai dari perhiasan, tekstil, kerajinan tangan, hingga usaha kuliner. Respons mereka sangat positif dan menjadi motivasi bagi tim untuk terus menyempurnakan platform.
Salah satu partisipan uji coba, Ibu Nur Azizah, pemilik usaha batik lokal “Batik Kendari Maju” yang telah berjalan selama 15 tahun, berbagi pengalamannya. “Sebelum menggunakan AssetChain, kami mencatat inventory pakaian jadi dan bahan baku di buku catatan biasa. Sering kali ada kesalahan perhitungan, dan kami tidak bisa melacak barang mana yang paling laku atau mana yang sudah disimpan terlalu lama,” ujar Ibu Nur, yang kini menggunakan platform tersebut untuk mengelola lebih dari 500 item aset. “Sekarang dengan aplikasi ini, semua menjadi terorganisir. Saya bisa lihat kapan saja berapa stok yang saya punya, dan system otomatis memberitahu saya jika ada barang yang perlu diorder ulang.”
Testimoni positif seperti ini tidak hanya dari pengguna individual. Asosiasi UMKM Kendari juga menunjukkan ketertarikan yang besar. Bambang Suryanto, Ketua Asosiasi UMKM Kendari, menyatakan bahwa pihaknya siap memfasilitasi adopsi platform ini ke ribuan anggota mereka. “Ini adalah kontribusi nyata dari dunia akademik untuk memberdayakan ekonomi lokal. Kami sangat apresiasi dengan inisiatif UMKH yang telah mengembangkan solusi teknologi yang benar-benar memahami kebutuhan kami,” ucapnya dalam acara peluncuran.
Dukungan Pimpinan Kampus dan Visi Ke Depan
Rektor UMKH, Prof. Dr. H. Hasjim Muhammad, M.Si., menghadiri secara langsung acara peluncuran dan memberikan sambutan yang penuh antusias. “AssetChain adalah representasi nyata dari komitmen UMKH untuk menjalankan tri dharma perguruan tinggi – khususnya dalam hal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kami percaya bahwa universitas harus menjadi agen perubahan yang mendorong inovasi untuk pembangunan daerah,” ujar Prof. Hasjim dalam pidatonya.
Lebih lanjut, Rektor juga mengumumkan alokasi dana tambahan sebesar 500 juta rupiah untuk fase pengembangan selanjutnya. Dana ini akan digunakan untuk memperluas fitur platform, meningkatkan kapasitas server, dan melakukan roadshow ke berbagai daerah di Sulawesi Tenggara. “Kami ingin memastikan bahwa inovasi ini dapat diakses oleh sebanyak mungkin UMKM, tidak hanya di Kendari, tetapi di seluruh provinsi,” tegas Prof. Hasjim.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengembangan, Dr. Ir. Endah Suryani, M.Sc., menyampaikan bahwa penelitian ini diharapkan akan menjadi momentum awal bagi UMKH untuk menciptakan lebih banyak inovasi yang berorientasi pada problem-solving lokal. “Kami sudah mulai menerima inquiry dari berbagai industri lain yang tertarik pada teknologi serupa. Mungkin ke depannya tim kami akan juga mengembangkan solusi serupa untuk sektor pertanian, pariwisata, atau industri kreatif lainnya,” ungkap Dr. Endah.
Dampak dan Proyeksi Bisnis
Meskipun baru diluncurkan, AssetChain sudah mendapatkan tawaran kerjasama dari beberapa lembaga keuangan dan platform e-commerce lokal. Integrasi dengan aplikasi-aplikasi tersebut akan membuat AssetChain semakin powerful dan relevan dalam ekosistem digital Indonesia.
Secara finansial, tim peneliti merencanakan model bisnis yang sustainability. Platform akan menawarkan paket freemium, di mana UMKM dengan aset di bawah 100 item bisa menggunakan secara gratis, sementara yang lebih besar dikenakan tarif berlangganan mulai dari 50 ribu rupiah per bulan. Proyeksi revenue pada tahun pertama operasional adalah 2 miliar rupiah, dengan target breakeven dalam dua tahun.
“Kami tidak hanya ingin menciptakan produk, tetapi juga menciptakan startup yang sustainable,” terang Ir. Siti Nurhaliza. “Mahasiswa-mahasiswa kami sudah mulai diajarkan tentang business development dan entrepreneurship, sehingga mereka tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga bisnis dari inovasi ini.”
Penutup: Harapan dan Komitmen Berkelanjutan
Penelitian inovatif ini menunjukkan bahwa universitas lokal seperti UMKH memiliki kapasitas untuk menciptakan solusi teknologi kelas dunia yang relevan dengan konteks lokal. AssetChain adalah bukti bahwa kolaborasi sinergis antara dosen berpengalaman, mahasiswa berbakat, dan kebutuhan nyata dari masyarakat dapat menghasilkan inovasi yang bermakna.
Dr. Bambang Sutrisno, dalam closing remarks-nya, menekankan komitmen program studi terhadap penelitian berkelanjutan. “Ini baru permulaan. Kami akan terus melakukan improvement berdasarkan feedback pengguna, menambah fitur-fitur baru, dan memperluas jangkauan. Tujuan kami adalah membuat AssetChain menjadi platform pilihan utama untuk manajemen aset UMKM di Indonesia,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Sementara itu, mahasiswa-mahasiswa peneliti seperti Rivan dan rekan-rekannya telah merasakan manfaat luar biasa dari keterlibatan mereka dalam proyek riset ini. Beberapa di antaranya bahkan sudah mendapatkan tawaran magang dari perusahaan teknologi terkemuka berdasarkan pengalaman dan portfolio mereka dalam mengembangkan AssetChain.
Dengan peluncuran AssetChain pada 3 April 2026 ini, Program Studi Sistem Informasi Universitas Muhammadiyah Kendari telah menuliskan halaman baru dalam sejarah penelitian kampus lokal di Sulawesi Tenggara. Inovasi ini tidak hanya membawa nama baik institusi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pemberdayaan ekonomi digital masyarakat lokal. Ke depannya, sangat mungkin bahwa AssetChain akan menjadi salah satu success story dari penelitian akademik Indonesia yang berhasil ditransformasikan menjadi solusi bisnis yang berdampak luas.
(Berita ini telah dikonfirmasi dengan narasumber utama pada tanggal 3 April 2026)
—
Keterangan Narasumber:
– Dr. Bambang Sutrisno, Ketua Program Studi Sistem Informasi UMKH
– Ir. Siti Nurhaliza, M.Kom., Dosen Peneliti
– Drs. Muhammad Rifki Pratama, M.T., Dosen Peneliti
– Prof. Dr. H. Hasjim Muhammad, M.Si., Rektor UMKH
– Dr. Ir. Endah Suryani, M.Sc., Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengembangan
– Rivan Hidayat, Mahasiswa Peneliti
– Ibu Nur Azizah, Pemilik Usaha Batik Kendari Maju
– Bambang Suryanto, Ketua Asosiasi UMKM Kendari